Wednesday, 30 November 2016

Galangan Kapal VOC

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Salah satu sisi bagian luar bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2015). Gedung ini pada masa lampau pernah digunakan sebagai salah satu titik aktivitas perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
SUATU hari di tahun 1997, Susilowati Then (66) diminta suaminya, Gustimego, membeli gudang dan tanah seluas 5.000 meter persegi. Menurut rencana, gudang yang rusak dan hampir ambruk itu akan dirobohkan, dan di atas lahan tersebut akan dibangun deretan rumah toko alias ruko.

"Kami membeli gudang tersebut dari pemiliknya yang bermarga Panggabean. Selama itu mereka menggunakan gudang tersebut sebagai gudang yang penuh dengan drum-drum bahan kimia,” tutur Susilowati saat ditemui pada Sabtu (10/1/2015).

Tak berapa lama setelah gudang dan lahan itu dibeli, Susilowati diberitahu petugas Suku Dinas Pariwisata Jakarta Utara yang mengatakan bahwa bangunan yang dibeli Susilowati adalah bangunan cagar budaya yang tak lain adalah Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Sesuai ketentuan perundangan, Susilowati tidak boleh merobohkan bangunan tersebut.

Susilowati taat. Ia pun hanya membersihkan gudang dan menambal tembok di sana-sini seadanya. Selang tak berapa lama, Wali Kota Jakarta Utara kala itu, Subagyo (1997-2002), mendesak Susilowati mengizinkan Festival Jakarta bisa digelar di galangan kapal tersebut. Menurut rencana, festival akan digelar pada Juli 1998.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Salah satu sisi bagian luar bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2015). Gedung ini pada masa lampau pernah digunakan sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Susilowati tak hanya mengizinkan festival digelar di sana, tetapi juga siap membiayai festival itu. Tidak ingin mengecewakan pengunjung acara, ia pun berniat merestorasi bangunan. ”Saya masih ingat, untuk membersihkan barang bekas, puing, dan sampah, saya membutuhkan enam truk yang mondar-mandir hampir sepekan,” kenangnya.

Ia lalu menyulap sebagian galangan kapal menjadi restoran dan galeri di lantai dua, serta kafe di lantai satu. ”Kala itu saya berpikir, momen Festival Jakarta bisa menjadi pembuka jalan memperkenalkan dan menghidupkan galangan kapal ini menjadi kawasan wisata,” tutur Susilowati.

Dengan rasa optimistis yang meluap, ibu lima anak dan 12 cucu ini pun menyiapkan 120 pekerja yang ia gaji dua bulan di muka. Namun, apa hendak dikata, Mei 1998 Jakarta dilanda amuk massa. Festival Jakarta pun urung digelar. Usaha Susilowati pun gulung tikar.

Meski demikian, Susilowati terus melanjutkan restorasi. ”Saya telanjur jatuh hati pada bangunan ini setelah enam bulan saya memilikinya,” katanya.

Kantor dagang

Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam bukunya, Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2000) menulis, bangunan milik Susilowati itu dibangun tahun 1628 sebagai kantor dagang VOC. Bangunan itu kemudian dijadikan gudang barang keperluan galangan kapal di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Salah satu sisi bagian dalam bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Junat (30/1/2015). Gedung ini pada masa lampau pernah digunakan sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Lama-lama, gudang ini pun menjadi galangan kapal bagi kapal-kapal kecil yang tak tertampung di Pulau Onrust.

”Perubahan lain terjadi saat galangan kapal ini terbakar tahun 1721. Sebelum terbakar lantai duanya rata, tanpa selasar. Setelah terbakar, dibangunlah selasar,” ucap arkeolog dan pengamat Kota Tua Jakarta itu.

Candrian, yang mendampingi Susilowati, menambahkan, tahun 1978 Gubernur DKI Ali Sadikin membangun saluran penghubung yang kini populer disebut sebagai Kali Pakin. Akibat pembangunan saluran itu, sebagian bangunan galangan dipangkas.

Kecintaan Susilowati pada cagar budaya lambat laun membuat ia jatuh cinta pula pada seni dan budaya yang berkembang di Jakarta pada abad ke-18. ”Saya ingin suatu hari Galangan Kapal VOC ini bisa menjadi serambi budaya bagi kesenian, tradisi, dan budaya yang berkembang di Jakarta pada abad ke-18,” tuturnya.

Kurang peduli

Yang masih menjadi kegundahan Susilowati adalah sampai hari ini Pemerintah Kota Jakarta Utara ataupun Pemprov DKI masih kurang peduli terhadap semua usahanya itu. Sejak galangan kapal menjadi miliknya dan selesai direstorasi, para petinggi DKI Jakarta datang silih berganti mengumbar janji hendak memperbaiki infrastruktur jalan dan penerangan, serta membuat rute kendaraan pariwisata.

Mereka juga mengumbar janji membantu meramaikan galangan kapal dengan bermacam kegiatan, serta akan ikut melestarikan cagar budaya tersebut. Namun, janji tinggal janji. Susilowati harus menanggung perawatan Galangan Kapal VOC miliknya sendirian.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Tukang perahu menunggu warga yang menyeberang di Jalan Kakap, Jakarta Utara, Senin (21/1/2015). Banjir sudah lima hari menggenangi kawasan ini.
Saat ia merasa ditinggalkan, Susilowati sempat berpikir ingin menjual bangunan bersejarah itu dan bisa beristirahat bersama anak-cucunya.

”Ya buat apa saya setiap tahun harus mengeluarkan PBB senilai Rp 110 juta dan setiap bulan membayar listrik sampai Rp 20 juta kalau kurang bermanfaat bagi publik?” ujar Susilowati.

Ia mengaku tidak memiliki motif ekonomi lagi untuk menghidupkan galangan kapal miliknya. ”Saya sudah tua. Tidak lagi bermimpi banyak soal materi. Yang saya inginkan adalah keramaian budaya di sekitar galangan kapal ini,” ujarnya.

Galangan Kapal VOC tak bisa dipisahkan dengan sejumlah bangunan serta tempat cagar budaya di sekitarnya, yaitu Menara Syahbandar, Pasar Ikan Heksagon, Museum Bahari, serta Pelabuhan Sunda Kelapa. Sayang, sampai sekarang lima cagar budaya nan-eksotis dan menyimpan banyak cerita menarik itu, kurang terhubung satu sama lain oleh infrastruktur yang layak. Sepenggal riwayat kota ini telah dilupakan.... (WINDORO ADI)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: Kompas Cetak,

Tuesday, 29 November 2016

Roti Buaya / Alligator Beard

Pernikahan orang Betawi tak bisa lepas dari Roti Buaya. Biasanya mempelai pria membawakan roti berbentuk Buaya. JJ Rizal (peneliti sejarah Betawi) berkata mengetahui makna Roti Buaya dalam Betawi tak boleh melupakan bahwa penduduk Jakarta dahulu merupakan masyarakat sungai. Jakarta dikelilingi 13 sungai. "Sering diberitakan muncul Buaya di sungai-sungai itu. Dan interaksi masyarakat Betawi paling intens dengan buaya,” Asal muasal adanya roti buaya ini, terinspirasi perilaku buaya yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Masyarakat Betawi meyakini hal itu secara turun-temurun Karena dianggap hewan suci, selain itu, Roti Buaya adalah lambang kesabaran, karena buaya selalu sabar dalam mengintai dan menunggu mangsa. Namun, ada juga yang mengartikannya sebagai lambang kejantanan. Selama perjalanan, roti ini harus tetap mulus, tidak boleh rusak sampai ke tangan pengantin perempuan. Buaya dimasukkan ke siklus-siklus kehidupan terpenting dalam masyarakat Betawi, seperti saat menikah. makin keras dan makin besar Roti Buaya, maka semakin baik. Karena roti itu akan disimpan selamanya. Banyaknya budaya Betawi yang membiarkan Roti Buaya dibagi-bagi dan dimakan setelah upacara pernikahan supaya mereka segera mendapatkan jodoh.


       

Friday, 18 November 2016

CPTA 2016

Welcome to Asia Campaign Exhibition
Sambutan selamat datang oleh Bapak Catur Laswanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, yang dihadiri oleh para delegasi CPTA
Tari Nengnengder sebagai tarian pembuka acara Welcome To Asia Campaign Exhibition 2016 di Fountain Area, Grand Indonesia Shopping Town, lantai 3A
Pemotongan bunga oleh Bapak Catur Laswanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta (sebelah kanan) dan Mr. Hideyuki Urasaki, Senior Director for Tourism Promotion (sebelah kiri) sebagai simbol peresmian telah dibukanya acara Welcome To Asia Campaign Exhibition 2016
Bapak Catur Laswanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, bersama Mr. Hideyuki Urasaki, Senior Director for Tourism Promotion ditemani beberapa jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke booth-booth CPTA yaitu Booth Jakarta dan Tokyo
Selain itu, kunjungan juga dilakukan ke Booth Secretariat CPTA dan Metro Manila
Kunjungan juga dilakukan ke Booth Kuala Lumpur dan Hanoi
Keceriaan para delegasi diajak menari bersama tarian tradisional DKI Jakarta
Foto bersama setelah peresmian dibukanya acara Welcome To Asia Campaign Exhibition 2016 di Fountain Area, Grand Indonesia Shopping Town, lantai 3A
Suasana booth dan pameran yang ramai didatangi oleh para pengunjung
Hiburan Musik Band
Para delegasi sudah siap untuk berangkat study tour menuju Taman Mini Indonesia Indah
Study Tour
Para delegasi disambut oleh para penari pada saat mengunjungi Anjungan Provinsi DKI Jakarta
Study Tour
Para delegasi yang menari bersama para penari tari tradisional DKI Jakarta
Study Tour
Foto bersama rombongan dengan para penari
Study Tour
Rombongan juga mengunjungi rumah adat Betawi serta peragaan sejarah dan budaya Jakarta
Study Tour
Rombongan juga mengunjungi rumah adat Betawi serta peragaan sejarah dan budaya Jakarta
Study Tour
Antusiasme para delegasi yang sedang mengunjungi peragaan budaya Jakarta Anjungan DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, yang dijelaskan oleh pemandu wisata lokal
Study Tour
Study Tour
Selesai mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah, perjalanan dilanjutkan ke destinasi berikutnya
Study Tour
Jamuan makan siang delegasi pada saat kegiatan Study Tour ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bertempat di Restaurant Ikan Bakar dalam Bambu KARIMATA
Study Tour
Study Tour dilanjutkan dengan mengunjungi Gedung SMESCO Indonesia di mana para delegasi diajarkan cara membatik tradisional
Study Tour
Hasil membatik karya masing-masing delegasi
Study Tour

Wednesday, 28 January 2015

Indonesia Fashion Week is a fashion movement which is firstly initiated by Indonesian Fashion Entrepreneur and Designer Association (APPMI)

Indonesia Fashion Week is a fashion movement which is firstly initiated by Indonesian Fashion Entrepreneur and Designer Association (APPMI). This idea comes with a big main idea: make Indonesia as one of the world’s center for fashion. It’s Indonesia’s annual fashion trade event that is presenting the uniqueness of Indonesian culture through ready to wear fashion and packaged in various programs such as exhibition, fashion show, competition, seminar and workshop.
26 Februari – 1 Maret 2015 | Jakarta Convention Center
Organized by : PT. Kerabat Dyan Utama
T : +6221 3926867
F : +6221 3926092,
+6221 3915564
FB : Indonesia Fashion Week
Twitter : @IndonesiaFW

Monday, 2 December 2013

The World Royal Heritage Festival 2013





Aiming to promote and to preserve artistic heritage and royal palace's culture, Jakarta Tourism and Culture Office will held The World Royal Heritage Festival 2013 on December 5-8, 2013 at National Monument (Monas), Central Jakarta. This event is also to build friendship among kingdoms from all over the world.

Prince Andrew, The Duke of York, will be coming to Jakarta to attend The World Royal Heritage Festival 2013. Jakarta Governor Joko Widodo (Jokowi) admitted that he verbally asked the British royal to come to the World Royal Heritage Festival. Not only that, he also planned to invite all monarchies around the world. “I was telling him (Prince Andrew) about the upcoming festival. We want to invite royal families to come to the World Royal Heritage Festival on December 5-8. Later, the invitation will be like old days letter, the one that is rolled,” stated Jokowi, Thursday (9/19).

Jokowi really hopes the British royal family would participate in the festival. He even asked special request for them to bring along British royal guards.“They (British royal) will send representatives. I don’t know yet who the representatives would be, but they will send representatives. We also requested for Buckingham Palace’s guards (to participate in the festival),” he uttered.

According to Jokowi, the World Royal Heritage Festival will show  world about Indonesia’s royal and cultural richness, as well as to promote the city of Jakarta to the world. As many as 130 palaces (Keraton) in Indonesia will take part in this festival.

The event itself will be filled with numerous activities from each delegation's participants, such as seminars, workshops, exhibition of sacred heirloom artifacts, culinary festival, traditional dances and royal dress show.

2013 Jakarta International Kite Festival

Various kind of traditional and modern kites will decorate the sky above National Monument (Monas) on Jakarta International Kite Festival (JIKF) 2013 on 30th November to 1st December 2013. Jakarta Tourism and Culture Office and the Le Gong Kite Society hold this festival annually to showcase local and international kites.



The Le Gong Kite Society is a group of kite enthusiasts based in Jakarta. The group was established by Indonesian stage actress Sari Sabda Bhakti Madjid, who is a kite-lover herself, in 1989. Today, the group has more than 100 members from all across the country.

The two-days event consists of kite exhibitions, competitions, and a bazaar. At least 18 countries are scheduled to participate in the international event this year. All participants are free to apply their own interpretations of the general theme onto their kites. The evaluation will be based on their compliance to the general theme, workmanship and creativity.

The Jakarta International Kite Festival 2013 would also include an exhibition, a photo session, and a kite making demonstration.

Supporting Local Farmers in Agri & Agro Festival 2013

The Indonesian agriculture sector is dominated by small family farmers, with cash crop production in particular and fruits, vegetables crops. The main staple food is rice. In 2003, contribute about 15% of the Indonesia Product Domestic Bruto and in 2009 slightly increase to about 16,3%.



According to Indonesia's Central Bureau of Statistics Agricultural Census, the number of farmers has decreased from 31.17 million in 2003 to 26.13 million in 2013. The decrease was due to the farmers professions switched to other sectors, such as trade or industry.

Therefore, to support the local farmers in the easiest possible way, Jakarta Tourism and Culture Office will hold Agri & Agro Festival 2013 at Taman Mini Indonesia Indah on 29th November to 1st December 2013. This event is an original concept to present the sectors of agribusiness and agroindustry in Indonesia, by welcoming people of all ages from different background to equally enjoy the festival.

Agri & Agro Festival 2013 is scheduled to be attended by regencies from all around Indonesia that will introduce their signature local commodities, and also welcome the foreign agricultural and agroindustrial companies based in Indonesia and/or countries of origin that will also introduce their commodities.

Not only that, this event will also have traditional arts and cultural show and culinary adventure from provinces of Indonesia. Music performances by Indonesian artists has also been scheduled to entertain all parties.