KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Salah satu sisi bagian luar bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan
Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2015). Gedung ini pada
masa lampau pernah digunakan sebagai salah satu titik aktivitas
perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oostindische
Compagnie).
SUATU hari di tahun 1997, Susilowati Then (66) diminta
suaminya, Gustimego, membeli gudang dan tanah seluas 5.000 meter
persegi. Menurut rencana, gudang yang rusak dan hampir ambruk itu akan
dirobohkan, dan di atas lahan tersebut akan dibangun deretan rumah toko
alias ruko.
"Kami membeli gudang tersebut dari pemiliknya yang
bermarga Panggabean. Selama itu mereka menggunakan gudang tersebut
sebagai gudang yang penuh dengan drum-drum bahan kimia,” tutur
Susilowati saat ditemui pada Sabtu (10/1/2015).
Tak berapa lama
setelah gudang dan lahan itu dibeli, Susilowati diberitahu petugas Suku
Dinas Pariwisata Jakarta Utara yang mengatakan bahwa bangunan yang
dibeli Susilowati adalah bangunan cagar budaya yang tak lain adalah
Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Sesuai
ketentuan perundangan, Susilowati tidak boleh merobohkan bangunan
tersebut.
Susilowati taat. Ia pun hanya membersihkan gudang dan
menambal tembok di sana-sini seadanya. Selang tak berapa lama, Wali Kota
Jakarta Utara kala itu, Subagyo (1997-2002), mendesak Susilowati
mengizinkan Festival Jakarta bisa digelar di galangan kapal tersebut.
Menurut rencana, festival akan digelar pada Juli 1998.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Salah satu sisi bagian luar bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan
Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2015). Gedung ini pada
masa lampau pernah digunakan sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan
dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Susilowati tak hanya mengizinkan festival digelar di sana, tetapi juga
siap membiayai festival itu. Tidak ingin mengecewakan pengunjung acara,
ia pun berniat merestorasi bangunan. ”Saya masih ingat, untuk
membersihkan barang bekas, puing, dan sampah, saya membutuhkan enam truk
yang mondar-mandir hampir sepekan,” kenangnya.
Ia lalu menyulap
sebagian galangan kapal menjadi restoran dan galeri di lantai dua, serta
kafe di lantai satu. ”Kala itu saya berpikir, momen Festival Jakarta
bisa menjadi pembuka jalan memperkenalkan dan menghidupkan galangan
kapal ini menjadi kawasan wisata,” tutur Susilowati.
Dengan rasa
optimistis yang meluap, ibu lima anak dan 12 cucu ini pun menyiapkan 120
pekerja yang ia gaji dua bulan di muka. Namun, apa hendak dikata, Mei
1998 Jakarta dilanda amuk massa. Festival Jakarta pun urung digelar.
Usaha Susilowati pun gulung tikar.
Meski demikian, Susilowati
terus melanjutkan restorasi. ”Saya telanjur jatuh hati pada bangunan ini
setelah enam bulan saya memilikinya,” katanya.
Kantor dagang
Adolf
Heuken dan Grace Pamungkas dalam bukunya, Galangan Kapal Batavia Selama
Tiga Ratus Tahun (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2000) menulis,
bangunan milik Susilowati itu dibangun tahun 1628 sebagai kantor dagang
VOC. Bangunan itu kemudian dijadikan gudang barang keperluan galangan
kapal di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Salah satu sisi bagian dalam bangunan gedung Galangan VOC, di Jalan
Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Junat (30/1/2015). Gedung ini pada
masa lampau pernah digunakan sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan
dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Lama-lama, gudang ini pun menjadi galangan kapal bagi kapal-kapal kecil yang tak tertampung di Pulau Onrust.
”Perubahan
lain terjadi saat galangan kapal ini terbakar tahun 1721. Sebelum
terbakar lantai duanya rata, tanpa selasar. Setelah terbakar,
dibangunlah selasar,” ucap arkeolog dan pengamat Kota Tua Jakarta itu.
Candrian,
yang mendampingi Susilowati, menambahkan, tahun 1978 Gubernur DKI Ali
Sadikin membangun saluran penghubung yang kini populer disebut sebagai
Kali Pakin. Akibat pembangunan saluran itu, sebagian bangunan galangan
dipangkas.
Kecintaan Susilowati pada cagar budaya lambat laun
membuat ia jatuh cinta pula pada seni dan budaya yang berkembang di
Jakarta pada abad ke-18. ”Saya ingin suatu hari Galangan Kapal VOC ini
bisa menjadi serambi budaya bagi kesenian, tradisi, dan budaya yang
berkembang di Jakarta pada abad ke-18,” tuturnya.
Kurang peduli
Yang
masih menjadi kegundahan Susilowati adalah sampai hari ini Pemerintah
Kota Jakarta Utara ataupun Pemprov DKI masih kurang peduli terhadap
semua usahanya itu. Sejak galangan kapal menjadi miliknya dan selesai
direstorasi, para petinggi DKI Jakarta datang silih berganti mengumbar
janji hendak memperbaiki infrastruktur jalan dan penerangan, serta
membuat rute kendaraan pariwisata.
Mereka juga mengumbar janji
membantu meramaikan galangan kapal dengan bermacam kegiatan, serta akan
ikut melestarikan cagar budaya tersebut. Namun, janji tinggal janji.
Susilowati harus menanggung perawatan Galangan Kapal VOC miliknya
sendirian.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Tukang perahu menunggu warga yang menyeberang di Jalan Kakap, Jakarta
Utara, Senin (21/1/2015). Banjir sudah lima hari menggenangi kawasan
ini.
Saat ia merasa ditinggalkan, Susilowati sempat berpikir ingin menjual
bangunan bersejarah itu dan bisa beristirahat bersama anak-cucunya.
”Ya
buat apa saya setiap tahun harus mengeluarkan PBB senilai Rp 110 juta
dan setiap bulan membayar listrik sampai Rp 20 juta kalau kurang
bermanfaat bagi publik?” ujar Susilowati.
Ia mengaku tidak
memiliki motif ekonomi lagi untuk menghidupkan galangan kapal miliknya.
”Saya sudah tua. Tidak lagi bermimpi banyak soal materi. Yang saya
inginkan adalah keramaian budaya di sekitar galangan kapal ini,”
ujarnya.
Galangan Kapal VOC tak bisa dipisahkan dengan sejumlah
bangunan serta tempat cagar budaya di sekitarnya, yaitu Menara
Syahbandar, Pasar Ikan Heksagon, Museum Bahari, serta Pelabuhan Sunda
Kelapa. Sayang, sampai sekarang lima cagar budaya nan-eksotis dan
menyimpan banyak cerita menarik itu, kurang terhubung satu sama lain
oleh infrastruktur yang layak. Sepenggal riwayat kota ini telah
dilupakan....
(WINDORO ADI)